Konsep 5 W dan 1 H

Selasa, 03 September 2013 | komentar

Konsep 5W & 1H merupakan salah satu bagian atau rumusan dari Outdoor Management. Dalam suatu kelompok perjalanan, faktor manajemen sangatlah diperlukan untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan bersama, terutama manajemen dalam melakukan sebuah kegiatan, entah itu kegiatan pendakian gunung, penyelaman di laut, penelurusan goa, berarung jeram dan sebagainya. Melalui manajemen alam bebas diharapkan terjadinya perpaduan dari semua usaha dan kegiatan yang mengarah pada tujuan kelompok, menciptakan kerja sama yang baik demi kelancaran dan efektifitas kerja, serta untuk mempertinggi daya guna semua sumber dan hasil gunanya. Jadi diharapkan melalui manajemen yang baik suatu kegiatan akan berlangsung sukses seperti yang diharapkan. Berikut ini adalah gambaran singkat tentang konsep 5W & 1H tersebut. Sebuah perjalanan akan begitu memberi arti dimulai dari sini.

1. Tentukan maksud dari kegiatan bersama ini (What)
Seringkali kita bingung saat akan memutuskan akan melakukan kegiatan alam bebas. Beberapa teman TIAC sudah beberapa kali menentukan tujuan perjalanan semacam ini, Search The Rino ke Taman Nasional Ujung Kulon, Kirei na Halimun ke Tanam Nasional Gunung Halimun, Campaign for go global Innova ke Gunung Kerinci dan sebagainya. Maksud dan slogan-slogan perjalanan semacam itu tanpa sadar menjadi sebuah motivasi bagi para pelaku kegiatannya yang akhirnya akan memompa nilai kebersamaan dalam mencapai tujuan. Contoh kali ini adalah Family Hiking TIAC.

2. Mengapa kegiatan tersebut dilakukan (Why)
Jika ditanya kenapa anda melakukan kegiatan tersebut pastilah akan memberikan jawaban yang beraneka ragam. Namun jika anda fokus kesatu maksud perjalanan akan didapat alasan yang akan membuat perjalanan terasa lebih mempunyai tantangan.  George Mallory, pendaki pertama Gunung Everest selalu berucap ketika dia ditanya kenapa melakukan pendakian ke gunung tersebut, hanya kalimat pendek jawabannya "because, it's there". Bagi orang awam pastilah kegiatan tersebut akan banyak pro dan kontranya. Begitu juga dengan anda yang akan melakukan perjalanan alam bebas, yakinkanlah maksud dan alasan anda dapat berjalan beriringan. Untuk itu jawaban kenapa kita melakukan Family Hiking adalah menanamkan sikap cinta lingkungan dan alam sekitar sejak dini pada anak-anak dan keluarga.

3. Siapa saja yang akan melakukan kegiatan (Who)
Apakah anda akan melakukan kegiatan alam bebas tersebut secara berkelompok atau sendiri. Sebagai contoh dalam suatu kelompok (25 orang) yang terdiri dari 20 anggota penuh dan 5 orang masing peserta pemula/anak-anak. Kadang banyaknya peserta juga menjadi bahan pertimbangan, antara lain : Interest dan pengalaman, transportasi yang digunakan untuk melakukan kegiatan, tugas-tugas lapangan yang diberikan dan pengorganisasian peserta selama dilapangan. Dalam kepesertaan sudah biasanya ditentukan juga susunan kepanitiaanya. Susunan panitia sangat diperlukan untuk membantu kelancaran suatu kegiatan, dan adanya dukungan dari kerabat kerja lain mempunyai arti yang besar bagi Leader (pemimpin). Dengan dukungan dari anggota panitia yang lain diharapkan tugas-tugas bisa diselesaikan pada waktunya dengan sukses. Anggota kepanitiaan tersebut harus selalu berkumpul untuk menentukan arah kebijakan kelompok kegiatan serta selalu mengevaluasi hasil-hasil yang dicapai. Kepanitiaan tidak harus selalu dipegang oleh pelaku kegiatan, namun bisa pula anggota lain yang tidak mengikuti kegiatan.

4. Dimana kegiatan alam bebas tersebut dilakukan (Where)
Lokasi mana yang menurut anda tepat untuk dijadikan lokasi kegiatan, ambil contoh lokasi yang baik untuk Family Hiking adalah Taman Nasional Gede Pangrango di Cibodas. Penentuan lokasi ini juga tidak lepas dari ketiga aspek diatas, artinya lokasi juga menentukan sukses atau tidaknya kegiatan. Jangan sekali-kali memaksakan atau menentukan lokasi tujuan kegiatan jika kita tidak tahu akan maksud, alasan dan juga latar belakang peserta yang akan ikut serta. Pemahaman akan lokasi kegiatan juga sangatlah penting, usahakan dari beberapa peserta telah pernah kelokasi tujuan sebelumnya atau paling tidak diperlukan tenaga bantuan dari masyarakat sekitar yang dapat sepenuhnya membantu kegiatan tersebut.

5. Kapan dan berapa lama waktu yang dipergunakan (When)
Perencanaan waktu kegiatan juga sangat penting, contoh pelaksanaan kegiatan Family Hiking akan berlangsung pada hari Sabtu & Minggu, 8-9 April 2006. Yakinkanlah waktu kegiatan tidak mengganggu aktifitas pada hari berikutnya. Perencanaan waktu yang baik akan menghasilkan agenda kegiatan yang berjalan lancar. Sebagian besar teman-teman TIAC selalu mengambil waktu kegiatan diakhir pekan atau menjelang libur yang panjang. Selain mendapat alokasi waktu kegiatan yang panjang juga dapat dipergunakan untuk ajang refreshing yang baik. Memang, kadangkala alokasi waktu yang berikan masih terasa kurang apalagi jika kunjungan lokasi kegiatan benar-benar membuat peserta betah atau menyenangkan. Pernah teman seperjalanan dalam pendakian Rinjani saat tiba di Basecamp Plawangan Senaru berkata "Kayaknya gue betah deh tinggal disini, ini salah satu bukti warisan bumi Indonesia yang tak ternilai harganya".

Dari beberapa pertanyaan diatas dapat digambarkan sebuah kegiatan alam bebas yang akan berlangsung sebagai berikut :
Pada hari Sabtu & Minggu, 8-9 April 2006 akan diadakan kegiatan Family Hiking TIAC yang berlokasi di Taman Nasional Gede Pangrango, Cibodas dengan diikuti oleh 25 orang peserta yang terdiri dari 20 orang anggota penuh dan 5 orang peserta pemula/anak-anak.

6. Bagaimana (How)
Untuk 'How/Bagaimana', merupakan bagian pembahasan yang lebih konprehensif dari jawaban-jawaban yang diatas, ulasannya sebagai berikut.
A. Bagaimana perijinannya
B. Bagaimana kondisi lokasi
C. Bagaimana cuaca disana
D. Bagaimana pembagian tugas panitia
E. Bagaimana materi atau acara yang dikemas
F. Bagaimana keamanannya
G. Dan masih banyak lagi 'How/Bagaimana' yang lain.

Dari jawaban-jawaban yang timbul dari pertanyaan di atas akan didapat suatu perencanaan yang matang yang akan dijadikan susunan kegiatan yang didalamnya mencakup perincian pengurusan perijinan, antisipasi cuaca, penanganan keamanan peserta, pemahaman kondisi lapangan, pembagian tugas yang jelas, persiapan kebutuhan selama acara berlangsung, kebutuhan peralatan, perlengkapan dan sebagainya. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah anda akan mendapatkan point-point bagi kalkulasi biaya yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut atau yang biasa kita sebut “How much”.

Akhir dari setiap kegiatan alam bebas anda dan peserta akan dihadapkan dengan tahapan akhir yang biasa disebut "Fase after the expedition". Pada fase ini walaupun nampak mudah, namun sebenarnya amatlah sulit. Hal tersebut karena untuk menjaga mood agar selalu aktif setelah melakukan perjalanan alam bebas tidak semudah yang dibayangkan. Individu atau peserta cenderung kehabisan 'energi' yang ditandai dengan adanya fatique (kelelahan), kebosan, enggan bertanggung jawab, takut dievaluasi, cedera, dan sebaginya. Padahal masih banyak tugas yang belum terselesaikan seperti : Evaluasi kegiatan, penyusunan laporan kegiatan, membereskan masalah keuangan, pengiriman ucapan terima kasih, perencanaan kegiatan berikutnya dan sebagainya.

Kiranya, itulah keistimewaan konsep 5W & 1H dalam setiap kali mengadakan perjalanan alam bebas. Bukan hanya tujuan akhir dan kepuasan dari para pelaku kegiatan yang diinginkan tetapi kita sama-sama tahu benar fungsi dan tahapan-tahapan apa yang semestinya dilakukan agar perjalanan berlangsung dengan sukses.

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Borneo Travelling - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger